Minggu, 16 September 2012

KELAINAN PADA SISTEM SARAF DAN ALAT INDERA


Kelainan yang terjadi pada sistem saraf


1. Stroke ( istilah lain Cerebrovascular accident ( CVA ) atau Cerebral apoplexy ), adalah kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pecahnya pembuluh darah otak. Penyumbatanpermbuluh darah dapat terjadi akibat penyempitan pembuluh darah, penyumbatan oleh suatu emboli atau karena kedua-duanya. Akibatnya banyak orang menderita karena susah bicara, lumpuh, dll










                    

*        Poliomielitis , penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang neuron-neuron motoris sistem saraf ( otak dan medula spinalis ).  Gejala-gejalanya antara lain : sakit kepala, kaku duduk, sakit oto dan kemudian bisa menyebabkan kelumpuhan
*        Epilepsi, penyakit karena dilepaskannya letusan-letusan listrik ( impuls ) pada neuron-neuron otak.
*        Parkinson, penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya
neurotranslator dopamin pada dasar gangglion dengan gejala tangan gemetaran sewaktu istirahat ( tetapi gemetaran itu hilang sewaktu tidur ), sulit bergerak, kekakuan otot, otot muka kaku menimbulkan kesan seolah-olah bertopeng, mata sulit berkedip dan langkah kaki menjadi kecil dan kaku.
*        Transeksi , kerusakan atau seluruh segmen tertentu dari medula spialis. Misalnya karena jatuh, tertebak yang disertai dengan hancurnya tulang belakang.
*        Neurasthonia, ( lemah saraf ) , penyakit ini ada karena pembawaan lahir, terlalu berat penderitanya, rohani terlalu lemah atau karena penyakit keracunan.
*        Neuritis, radang saraf yang terjadi karena pengaruh fisis seperti patah tulang, tekanan pukulan, dan dapat pula karena racun atau difisiensi vitamin B1, B6, B12.
*        Amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali kejadian yang terjadi dalam suatu periode di masa lampau. Biasanya kelainan ini akibat guncangan batin atau cidera otak.
*        Cutter, kelainan di mana penderitanya selalu melukai dirinya sendiri pada saat depresi, stres, atau bingung.

Kelainan Susunan Saraf Pusat

GANGGUAN autistik bukan hanya disebabkan faktor psikologis, melainkan juga biologis. Penelitian struktur otak lewat bedah otak pada penyandang autis yang telah meninggal serta pencitraan otak dengan magnetic resonance imaging (MRI), single photon emission computed tomography (SPECT), maupun positron emission tomography (PET) menunjukkan kelainan pada hampir semua struktur otak. Antara lain di otak kecil (serebelum), lapisan luar otak besar (korteks serebri), sistem limbik (pengatur emosi), penghubung otak kiri dan kanan (korpus kalosum), ganglia basalis, dan batang otak.
      Autisme pada masa kanak-kanak ditandai dengan adanya gangguan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, dan aktivitas berimajinasi. Perilaku yang sering menyertai autisme antara lain hiperaktivitas, agresivitas, stereotipik kata dan gerak, menyakiti diri sendiri, penarikan diri, serta gangguan tidur (insomnia).
     Menurut Hardiono, pada penderita autis terdapat pola pertumbuhan otak yang berbeda dengan anak normal. Pada masa sebelum lahir sampai usia dua hingga tiga tahun terjadi percepatan pertumbuhan otak secara abnormal dengan fungsi abnormal pula. Namun, pertumbuhan otak yang cepat itu tidak dapat dipertahankan. Mulai usia enam tahun sampai remaja, terjadi perlambatan pertumbuhan otak sehingga volume otak pada remaja dan dewasa lebih kecil dibanding otak normal.
        Hal itu dibuktikan dari penelitian yang melibatkan 67 kasus autis dan 83 kontrol (individu normal) berusia delapan sampai 46 tahun lewat pemeriksaan MRI. Ternyata, anak autis di bawah usia 12 tahun menunjukkan volume otak lebih besar. Namun, perbedaan hilang pada penderita di atas usia 12 thn









   Pertumbuhan saraf otak
     Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.
     Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.
     Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.
     “Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps,” papar Hardiono.
      Dari pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
     “Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan,” jelas Hardiono.
     Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye.
     Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan.
     Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.
     Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).
     Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif. Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.
·     
 
Kelainan Saraf Tepi
   Gangguan ini adalah kumpulan penyakit-penyakit yang terjadi dan melibatkan susunan saraf tepi. Sehingga untuk dapat mudah memahami penyakit ini perlu diketahui dan ‘dikuasai’ anatomi, fisiologi, biokemistri, dan farmakologi saraf tepi.
Anatomi
Saraf Tepi adalah bagian dari Susunan Saraf pada manusia yang dapat dibedakan atas Susunan Saraf Pusat (terdiri dari Otak dan Medula Spinalis) dan Susunan Saraf Tepi yang terdiri dari juluran inti sel saraf yang berada di dalam otak dan medula spinalis menuju ke efektor yaitu kulit dan atau otot.
Saraf tepi yang terganggu akan menimbulkan kelainan seperti lumpuh atau lemah (bila mengenai saraf motorik) atau perasaan sensasi yang terganggu seperti tidak merasa, merasa kesemutan, merasa ditusuk-tusuk, atau merasa panas yang sangat tidak nyaman sampai nyeri hebat (bila yang terkena adalah saraf sensorik). Semua keluhan ini dapat terjadi karena gangguan hantaran saraf pada saraf tepi tersebut tidak berfungsi dengan benar. Penyebab gangguan tersebut antara lain karena kerusakan akson dan atau kerusakan mielin yang membungkus akson.
Jadi, secara anatomis, saraf tepi dapat dipahami sebagai suatu sistem yang berfungsi menghantarkan informasi berupa impuls elektrik ke arah efektor atau reseptor dalam hal ini kulit. Saraf tepi ini tersusun dari inti sel saraf yang terletak di otak dan di medula spinalis. Bila di otak disebut sebagai saraf kranialis atau saraf kepala. Bila di medula spinalis disebut sebagai radiks spinales yang terdiri dari 8 pasang di cervical, 12 thorakal, 5 lumbal dan 5 sakral. Dari kedua pasang serabut-serabut saraf ini kemudian membentuk saraf-saraf yang menuju ke efektor seperto otot, kulit, tendon, bursa dsbnya.

































Kelainan Pada Alat Indera
Beberapa kelainan dan penyakit yang menyerang alat-alat indra antara lain sebagai berikut :

1. MATA


 














1. Miopi
Miopi (rabun jauh) adalah kelainan pada mata yang ditandai dengan mata tidak dapat melihat jauh.Hal itu terjadi karena bola mata terlalu panjang dan bayangan benda jatuh di depan bintik kuning.Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai kaca mata berlensa cekung (negatif).

2. Hipermetropi
Hipermetropia (rabun dekat) adalah kelainan pada mata yang ditandai dengan mata tidak dapatmelihat dekat. Hal itu terjadi karena bola mata terlalu pendek dan bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai kaca mata berlensa cembung (positif).

3. Presbiopia
Presbiopia (rabun dekat danjauh) adalah kelainan yang ditandai dengan mata tidak dapat melihatdekat dan jauh. Hal itu terjadi ka.rena daya akomodasi mata mulai berkurans. Kelainan ini dialamioleh orang tua sehingga disebut juga mata tua. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakaikacamata berlensa rangkap, yaitu bagian atas berlensa cekung (negatif) dan bagian bawah berlensacembung (positif). Kelainan miopia, hipermetropia, dan presbiopia serta cara menolongnya telahkamu pelajari di kelas VIII.

4. Rabun Senja
Penderita rabun senja (rabun ayam) tidak dapat melihat dengan baik pada senja dan malam hariketika cahaya mulai rentang-remang. Gangguan penglihatan ini disebabkan oleh kekuranganvitamin A. Cara mencegah dan mengatasi gangguan ini ialah dengan mengonsumsi rnakanan yang banyak mensandung vitamin A. Misalnya wortel. pepaya, dan tomat.
5. Katarak
Katarak (bular mata) merupakan kelainan pada lensa mata. Lensa mata menjadi kabur dan keruhsehingga cahaya yang masuk tidak dapat mencapai retina. Biasanya, katarak diderjta oleh orangyang berusia lanjut. Katarak dapat diatasi dengan tindakan operasi.

2. TELINGA















Tuli Mendadak
Tuli mendadak ( istilah medis : sudden deafness ) merupakan keadaan emergensi di telinga,dimana telinga mengalami ketulian secara mendadak, kadang tanpa disertai keluhan,umumnya mengenai satu telinga.Dikatakan emergensi karena keadaan ini sering kali menetap, jika tidak diketahui cepat penyebabnya.Keluhan yang timbul biasanya, terjadi penurunan pendengaran yang berat secaratiba-tiba dapat disertai telinga berdengung ( tinitus ) dan rasa berputar ( vertigo ). Penyebab pastikadang sulit untuk diketahui, umumnya diakibatkan gangguan pada saraf telinga ( pada rumahsiput / koklea ) oleh berbagai hal seperti trauma kepala, trauma bising yang keras, infeksi virus, perubahan tekanan atmosfir dan adanya kelainan darah


















3. HIDUNG














 

1. Hidung berdarah/Mimisan
(Kedokteran:epistaksis atau Inggris: epistaxis) atau mimisan
adalah satu keadaan pendarahan dari hidungyang keluar melalui lubang hidung. Ada dua tipe pendarahan pada hidung:
• Tipe anterior (bagian depan). Merupakan tipe yang biasa terjadi.
• Dalam kasus tertentu,darah dapat berasal dari sinus dan mata. Selain itu pendarahan yang terjadi dapat masuk ke saluran pencernaan dan dapat mengakibatkan muntah.
Tipe posterior (bagian belakang). Penyebab
Secara Umum penyebab epistaksis dibagi dua yaitu :
1.Lokal
Lokal
Penyebab lokal terutama trauma, sering karena kecelakaan lalulintas, olah raga, (seperti karena pukulan pada hidung)yang disertai patah tulang hidung(seperti pada gambar di halamanini),mengorek hidung yang terlalu keras sehingga luka pada mukosa hidung, adanya tumor dihidung, ada benda asing (sesuatu yang masuk ke hidung) biasanya pada anak-anak, atau lintahyang masuk ke hidung, dan infeksi atau peradangan hidung dan sinus (rinitis dan sinusitis)
2. Sistemik
Sistemik
Penyebab sistemik artinya penyakit yang tidak hanya terbatas pada hidung, yang seringmeyebabkan mimisan adalah hipertensi, infeksi sistemik seperti penyakit demam berdarah dengueatau cikunguya, kelainan darah seperti hemofili, autoimun trombositipenic purpura






4. KULIT














Kutu air
Adalah sebuah infeksi jamur padakulit,  biasanya di antara jari kaki yang disebabkan olehjamur parasit, penyakit ini menular

Panu
merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit panau ditandai oleh bercak yang terdapat pada kulit disertai rasa gatal pada saat berkeringat.Bercak-bercak ini bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung kepada warna kulit penderita.Jamur yang menyebabkan panau adalah
 Malassezia furfur
Panu paling banyak dijumpai padaremajausia belasan. Meskipun begitu panau juga bisaditemukan pada penderita berumur yang lebih tua atau lebih muda. Penyakit ini biasanyamenyerang kulit di daerah yang menghasilkan banyak keringat. Biasanya panau terdapat pada bagian atasdada,lengan,leher , perut,kaki, ketiak, lipatan paha,mukadankepala. Panau terutama ditemukan di daerah yang lembab dan dilindungi pakaian



















5. LIDAH












Kanker lidah

Penyebab kanker lidah salah satunya rokok, jangan remehkan asap rokok. Asap yang lamamengepul di rongga mulut dan terkena lidah bisa memicu kanker lidah. Penyebab terbesar terjadinya kanker lidah karena merokok, terutama yang lebih dari 2 pak per hari. Risiko tersebut akan meningkat jika mengonsumsi alkohol.Penyebab lainnya karena tambalan atau gigi yang tajam yang menimbulkan trauma padalidah. Asap rokok yang mengumpul di rongga mulut ternyata memicu kanker. Lidah bisa mengering karena paparan asap rokok.
Gejala: pada stadium awal, kanker lidah ditandai dengan lesi atau kelainan prakanker. Kelainan prakanker atau lesi tersebut berbentuk bercak putih pada mukosa atau lapisan dalamrongga mulut berupa pengerasan, yang disebut leukoplakia.
Umumnya, kelainan ini akan menjadi kanker rongga mulut
Cegah Kanker lidah dengan mulut yang bersih dengan salah satu caranya adalah rajin menyikat gigi Pengobatan diilakukan dengan operasi, radiasi, sinar-X dan kemoterapi





















          


   
 




    



         








ILMU PENGETAHUAN ALAM (BIOLOGI)

KLIPING KELAINAN ATAU PENYAKIT PADA SISTEM KOORDINASI DAN ALAT INDERA


KELAS IX-5

KELOMPOK 1

ANGGOTA :

TIA MARLIANI
CITRA KHAERUNISA
ANISYA NURUL S
PIKA SEPTIANI
HENDRI HERLANDI
FAHRUROJI
M. HILMI ZAIDAN








SMP NEGERI 2 CIOMAS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar